Anomali PKKMB
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Dulu sering kita mendengar kata ospek, ritual yang digunakan oleh kampus untuk “mengenalkan” mahasiswa yang baru diterima di universitas tersebut. Tujuanya pasti ingin mengenalkan mahasiswa baru (maba) dengan universitas tersebut. Namun entah mengapa kata ospek seakan menjadi kata paling di takuti maba yang akan menjalani perkuliahan.
Sudah menjadi rahasia umum diberbagai kalangan kalau ospek adalah saat krusial untuk menjalani “pengenalan yang baik” bagi maba yang bersangkutan. Pengenalan dengan senior, mengenalkan kesenjangan antara senior dan junior. Pastinya akan ada hal-hal yang diinginkan disini, yang diinginkan oleh senior pastinya.
Mungkin itu yang melatarbelakangi mengapa ospek merubah namanya menjadi PKKMB terutama di kampus UNESA kita yang tercinta ini. Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru. Arti penting dari PKKMB adalah mengenalkan mahasiswa dengan kehidupan kampus yang sebenarnya. Namun, apakah itu sudah terlaksana?
PKKMB yang harusnya jadi ajang perkenalan yang semestinya dikemas dalam suasana yang asik, malah berkebalikan. Ada banyak faktor yang ingin saya kritisi disini. Namun jika itu saya lakukan mungkin tidak akan menjadi 500 kata, mungkin akan lebih. Yang ingin saya kritisi diisini hanya dua faktor yang menghilangkan esensi dari PKKMB itu sendiri.
Yang pertama adalah dari faktor pelaksanaan yang penuh dengan ajang bentak membentak yang menurut saya adalah kegiatan yang membuang tenaga, pertanyaanya adalah, mengapa? Kita tau, kita ini adalah fakultas ilmu pendidikan yang sebagian besar ranah profesi kita mengarah kepada aspek memanusiakan manusia. Jika dalam pelaksanaan PKKMB yang berisi tentang perkenalan, perkenalan adalah kesan pertama, kesan pertama jika menilik dari pelaksanaan PKKMB yang telah dilaksanakan justru akan membuat kesan buruk. Belum lagi kemungkinan adanya praktek balas dendam. Tentu yang saya bicarakan disini adalah balas dendam dalam jangka panjang. Yang berhubungan dengan cara mengajar guru, terutama guru-guru yang peserta didiknya adalah anak anak. Pasti sudah terbayangkan bagaimana dampaknya?
Jika yang dikehendaki adalah mahasiswa yang kritis dan berani protes, yang saya tanyakan disini adalah, apakah tidak ada cara lain? Apakah tidak ada cara yang lebih baik untuk menjadi mahasiswa yang kritis? Apakah dengan tekanan saja mahasiswa jadi kritis? Bukankah cara yang baik menghasilkan hasil yang baik?
Yang kedua adalah kegiatan yang menghilangkan esensi dari PKKMB itu sendiri, bagaimana tidak, dari nama kegiatan akbar kita ini sendiri adalah Perkenalan Kehidupan Kampus. Namun apa yang memperkenalkan, saya ragu apakah teman-teman bisa mengenal kehidupan kampus dengan cara yang seperti itu?.
Minimal mengenal nama-nama dari panitia saja, kita hanya di beri “fasilitas” meminta tanda tangan, dan saya yakin sebagian besar dari peserta PKKMB pasti akan lupa nama panitia tersebut jika dengan cara yang seperti itu. Lantas dimanakan letak dari perkenalan itu sendiri? Jangan kan mengenal kehidupan kampus, nama dari panitia saja kita lupa saat itu juga?
Jadi, yang ingin saya simpulkan disini adalah PKKMB itu penting, sangat penting karena mengenalkan mahasiswa baru tentang dunia keuniversitasan. Namun seperti yang saya katakan tadi, cara yang baik akan menghasilkan hasil yang baik begitu juga sebaliknya.
Mungkin ini hanyalah opini dari tulisan yang tabu, pasti ada sisi negatif dan positif dari PKKMB. Namun, bukankah hal negatif lebih asik untuk di perdebatkan?
Sudah menjadi rahasia umum diberbagai kalangan kalau ospek adalah saat krusial untuk menjalani “pengenalan yang baik” bagi maba yang bersangkutan. Pengenalan dengan senior, mengenalkan kesenjangan antara senior dan junior. Pastinya akan ada hal-hal yang diinginkan disini, yang diinginkan oleh senior pastinya.
Mungkin itu yang melatarbelakangi mengapa ospek merubah namanya menjadi PKKMB terutama di kampus UNESA kita yang tercinta ini. Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru. Arti penting dari PKKMB adalah mengenalkan mahasiswa dengan kehidupan kampus yang sebenarnya. Namun, apakah itu sudah terlaksana?
PKKMB yang harusnya jadi ajang perkenalan yang semestinya dikemas dalam suasana yang asik, malah berkebalikan. Ada banyak faktor yang ingin saya kritisi disini. Namun jika itu saya lakukan mungkin tidak akan menjadi 500 kata, mungkin akan lebih. Yang ingin saya kritisi diisini hanya dua faktor yang menghilangkan esensi dari PKKMB itu sendiri.
Yang pertama adalah dari faktor pelaksanaan yang penuh dengan ajang bentak membentak yang menurut saya adalah kegiatan yang membuang tenaga, pertanyaanya adalah, mengapa? Kita tau, kita ini adalah fakultas ilmu pendidikan yang sebagian besar ranah profesi kita mengarah kepada aspek memanusiakan manusia. Jika dalam pelaksanaan PKKMB yang berisi tentang perkenalan, perkenalan adalah kesan pertama, kesan pertama jika menilik dari pelaksanaan PKKMB yang telah dilaksanakan justru akan membuat kesan buruk. Belum lagi kemungkinan adanya praktek balas dendam. Tentu yang saya bicarakan disini adalah balas dendam dalam jangka panjang. Yang berhubungan dengan cara mengajar guru, terutama guru-guru yang peserta didiknya adalah anak anak. Pasti sudah terbayangkan bagaimana dampaknya?
Jika yang dikehendaki adalah mahasiswa yang kritis dan berani protes, yang saya tanyakan disini adalah, apakah tidak ada cara lain? Apakah tidak ada cara yang lebih baik untuk menjadi mahasiswa yang kritis? Apakah dengan tekanan saja mahasiswa jadi kritis? Bukankah cara yang baik menghasilkan hasil yang baik?
Yang kedua adalah kegiatan yang menghilangkan esensi dari PKKMB itu sendiri, bagaimana tidak, dari nama kegiatan akbar kita ini sendiri adalah Perkenalan Kehidupan Kampus. Namun apa yang memperkenalkan, saya ragu apakah teman-teman bisa mengenal kehidupan kampus dengan cara yang seperti itu?.
Minimal mengenal nama-nama dari panitia saja, kita hanya di beri “fasilitas” meminta tanda tangan, dan saya yakin sebagian besar dari peserta PKKMB pasti akan lupa nama panitia tersebut jika dengan cara yang seperti itu. Lantas dimanakan letak dari perkenalan itu sendiri? Jangan kan mengenal kehidupan kampus, nama dari panitia saja kita lupa saat itu juga?
Jadi, yang ingin saya simpulkan disini adalah PKKMB itu penting, sangat penting karena mengenalkan mahasiswa baru tentang dunia keuniversitasan. Namun seperti yang saya katakan tadi, cara yang baik akan menghasilkan hasil yang baik begitu juga sebaliknya.
Mungkin ini hanyalah opini dari tulisan yang tabu, pasti ada sisi negatif dan positif dari PKKMB. Namun, bukankah hal negatif lebih asik untuk di perdebatkan?
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar